Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Alhamdulillah diberi kesempatan mengunjungi Baitullah, ngak nyangka banget kesempatan ini datang, dan ini tidak sekedar Umrah, tapi membantu Bapak.! Soalnya Bapak berangkatin banyak jamaah sejumlah 185 jamaah pada periode ini termasuk aku, well aku dikasih kesempatan buat ikut *sujud syukur*. Tapi, posisi kami disini bukan sebagai anggota rombongan, melainkan sebagai leader. Jadi kami banyak ngurus ini-itu buat jamaah. Sempet bingung mau prepare apa aja._. Maklum baru pertama kali, tapi untung dibantu Bapak, Om Loud’s dan Kak Nova buat nyiapin perlengkapan buat disana.
Okay, kita mulai ceritanya! Hari Kamis, 27 Maret 2014 sekitar pukul 10.00 WIB kami meninggalkan rumah menuju Bandar Udara Internasional Kuala Namu. Di perjalanan, aku merasa deg-degan! Aku berpikir, apakah aku pantas untuk melakukan umrah? Apakah aku pantas untuk mengunjungi Baitullah? Karena rasanya, aku terlalu banyak dosa, ga pantes buat mengunjungi Tanah Suci. Tapi, aku menguatkan niatku. Ini semua demi Allah, lillahi ta’ala.
Kami sampai disana sekitar pukul 12.00 WIB. Dan ternyata sudah banyak jamaah yang datang. Segeralah kami membagi-bagikan Name Tag. Oh iya, jumlah rombongan kami ada 185 orang, lumayan banyak sih. Dan setelah mengurus ini-itu, kami menuju Waiting Room di dalam bandara itu. Sekitar pukul 15.00 WIB kami masuk ke pesawat Airasia dengan tujuan Kuala Lumpur (loh kok? Katanya mau umrah?). Oh iyaa, jadi perjalanan kami ini ga langsung kesana, kami harus transit di Kuala Lumpur dulu selama 6 jam (lumayan kan, sekalian jalan-jalan, hehe. Tapi tetep ga mengurangi nilai ibadah loh!).
Perjalanan dari Medan ke Kuala Lumpur memakan waktu kurang lebih 1 jam. Jadi kami sampai di Airport di Kuala Lumpur itu sekitar pukul 08.00 (waktu Kuala Lumpur). Karena perbedaan waktu di Indonesia sama di Kuala Lumpur itu 1 jam. Subhanallah, kagum banget waktu liat pertama kali wajahnya Kuala Lumpur itu gimana. Lingkungannya itu bersih, banget! Liat bandaranya aja kaya’ gimana gitu. Keren pokoknya! Oh iya, disini itu negara 1000 peraturan loh! Ya gimana engga, hal-hal yang lazim dilakukan di Indonesia, disini jadi hal yang ga lazim. Misalnya, meludah, membuang sampah sembarangan, merusak tanaman itu bisa didenda sampe berjuta-juta! Ga heran kalo negaranya itu super bersih, penduduknya juga disiplin.
Di Kuala Lumpur, kami melakukan berbagai kegiatan membantu jamaah. Ngeliat situasi di Kuala Lumpur, pemandangan yang ga biasa. Bunga-bunganya cantik-cantik terus tatanan kotanya menarik. Masya Allah, indah banget disini, banyak bunga-bunga bertebaran. Pokoknya damai deh disini. Tapi sayang waktunya ga lama, jadi gabisa menjelajah lebih jauh. Aku lupa tempatnya dimana. Dan setelah beli makan untuk makan malam, juga ada makan yang telah kami persiapkan dari medan. Tiba-tiba Bapak menghampiri kami dan seketika hening……………. Melihak Bapak memanggil kami untuk rapat darurat, bahwa kita mengalami masaalah. Masya Allah kami semua berdoa dan ber ikhtiar sekuat tenaga membantu Bapak menyelesaikan masaalah yang sangat menegangkan, semua tim 3MitraPlus : Pak Aloud’s, Kak Nova, dibantu Bunda Ratna, Bunda Masnah, semuanya dengan penuh semangat dan serentak fokus membantu Bapak (pimpinan perjalan), air mata ku menetes membasahi pipi tanpa bisa ku bendung, demikian Pak Aloud, Kak Nova, semua berdoa & berikhtiar dengan segala daya upaya membantu. Allahu Akbar, terucap dari bibirku ketika Bapak mengumpulkan kami kembali dan menyampaikan berita bahwa masaalah kita sudah selesai. Suasana hening yang menegangkan berubah menjadi haru, puji dan syukur kepada Allah, hampir aku tidak percaya bahwa persolan yang besar dan mustahil menurutku dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Allah Maha Besar, yang Rahman dan Rahim.
Akhirnya sekitar pukul 13.30 (Waktu Kuala Lumpur), kami menuju Jeddah pesawat AirAsia X. Pesawatnya besar banget. Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Jeddah itu sekitar 9 jam. Well, Hari Jumat pukul 06.00 (waktu Jeddah) kami sampai di Bandara King Abdul Aziz. Setelah melakukan kegiatan ini-itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Madinah yang kurang lebih memakan waktu sekitar 7 jam. Di perjalanan, kami singgah di Laut Merah, Masjid Terapung, disini kami melaksanakan Shalat Jum’at, aku banyak heran. Disana itu gersang banget, sekali pun ada pohon, mungkin cuma pohon kurma sama semak-semak yang daunnya warnanya pucat ga hijau segar. Terus juga banyak bukit-bukit batu. Kiri-kanan itu padang pasir semua, dan angin disana itu kenceng, jadi ga heran kalo kadang gitu ada badai pasir. Bahaya buat melakukan perjalanan di malam hari, karena bisa-bisa ga ngeliat jalanan. Di tengah perjalanan, kami singgah sebentar di tempat peristirahatan. Waktu turun dari bus, wuuuush! Udaranya ternyata lebih panas dari udara medan. Sampe merasuk ke dalam tubuh._. Disini kami istirahat, makan-minum, dan lain-lain. Disini teh susunya enak beda kalo buat teh susu di Indonesia. Okay, perjalanan dilanjutkan. Waktu mau sampe Madinah, aku mulai deg-degan, waktu udah ngebaca tulisan “Madinah Al-Munawwarah” rasanya merinding ya Allah, ga nyangka aku bisa ada di kotanya Rasulullah SAW. Sampe di Al-Ilyas Hotel, sekitar pukul 20.00 (waktu Madinah), meletakkan barang-barang dan menunggu pembagian kunci kamar. Waktu itu udah adzan, jadi gabisa ikut shalat Dhuhur di Masjid Nabawi. Dan lama lama lama kemudian, baru bisa masuk ke kamar, Alhamdulillah. Tapi baru bisa ikut jamaah di Masjid Nabawi itu pas jam 23.00 (Waktu Madinah)’, abisnya masih sibuk ngurus ini-itu. Subhanallah, rasanya pengen nangis liat Masjid Nabawi itu keren dan bagus banget! kami diajak untuk mengunjungi Raudhah, makam Rasulullah. Katanya, kalo kita shalat sunnah di ‘karpet hijau’ di mimbarnya nabi, do’a-do’a yang kita panjatkan itu insya Allah dikabulkan tapi ya butuh perjuangan untuk mencapai ‘karpet hijau’. Kita harus kuat desek-desekan sama muslimah dari berbagai penjuru dunia. Apalagi orang-orang Turki, badannya masya Allah. Besar banget loh, hehe. Kenapa mereka bisa sebesar itu? Karena (katanya sih) kalo perempuan Turki nikah, suaminya itu harus ngasih makan istrinya banyak-banyak, biar mertuanya itu ngira kalo menantunya itu kaya, jadi bisa ngasih makan istrinya. Agak aneh mungkin ya, tapi yaa itu kepercayaan mereka. Oke, kembali ke Raudhah. Disana itu kalo shalat sunnah harus rela diinjak-injak, karena tempatnya ga seberapa luas. Bayangin ya, tempat kira-kira 10 m x 5m dibuat shalat beribu-ribu muslimah! Jadi jangan heran kalo banyak yang keinjak-injak, bahkan kepala sekalipun. Pulang dari Raudhah sekitar pukul 24.30, dan baru bisa tidur itu pukul 02.00. Fiuh, melelahkan memang tapi mengesankan. Dan harus bangun pukul 05.00 untuk menunaikan shalat Subuh di Masjid Nabawi. Tapi satu keajaiban yang aku rasakan disana, aku jarang bahkan ga pernah merasa capek, meskipun jalan jauh, kurang tidur, but still strong!
Hari-hari di Madinah diisi dengan ziarah dan memperbanyak ibadah. Tanggal 30 Maret, ziarah dilakukan, seperti ke: Masjid Quba’, ke kebun kurma, ke peternakan unta, sayangnya di Jabal Uhud, percetakan Al-Qur’an, Masjid Qiblatain hanya sekadar lewat tidak sempat mampir karena waktunya yang tidak cukup. Ah sayang banget, tapi ga apa-apa insya Allah semoga bisa balik lagi ke Madinah Al Munawwarah, aamiin.
Tanggal 31 Maret sekitar pukul 13.30, kami menuju Masjid Bir Ali dengan mengenakan pakaian ihram bersiap untuk mengambil miqat dan menuju kota Makkah Al Mukarramah. Jaraknya hampir sama seperti Jeddah-Madinah, hanya saja kalau Jeddah-Madinah jaraknya sekitar 420 km, sedangkan Madinah-Makkah itu sekitar 430 km. Air mata tidak berhenti bercucuran saat meninggalkan kota Madinah, kota Rasulullah SAW. Rasanya damai, adem, nyaman sekali ada disini, tidak rela jika harus meninggalkannya. Tapi, semoga saja kota Makkah juga tidak kalah indahnya, dan semoga lebih indah aamiin.
Setelah mengambil miqat, di dalam bus kami berniat bersama untuk berumrah. Merinding rasanya mengucapkan kalimat ‘Nawaitul Umratan Waahramtu Biha Lillahita’ala’. Apalagi ketika di perjalanan memperbanyak mengucapkan kalimat Talbiyah, ‘Labbaikallahumma Labbaik, Labbaikala Syarikala Kalabbaik, Innalhamda, Wanni’mata, Lakawalmulk Laa Syarikalak’. Air mata mengalir deras, mengingat dosa-dosa selama ini yang begitu banyak. Dan, masih ga nyangka aku bisa berumrah.
Alhamdulillah pukul 18.00 (waktu Makkah) kami sampai di Makkah Al Mukarramah. Di Makkah suasananya lebih gersang dan lebih panas, beda seperti di Madinah, di Makkah juga lebih kumuh daripada di Madinah. Shalat pertama yang aku lakukan di Makkah, di Masjidil Haram itu adalah shalat Maghrib. Hotel kami agak sedikit jauh dari Masjidil Haram, tetapi tak mengapa, karena di perjalanan aku memanfaatkan untuk memperbanyak dzikir dan melihat-lihat kota Makkah. Di sepanjang perjalanan menuju Masjidil Haram, banyak sekali peminta sedekah berjejeran di tengah jalan, tapi pengemis tersebut bukan dari orang Makkah atau orang Arab asli, melainkan orang luar, orang Afrika. Kasihan melihatnya, tidak tega, karena rata-rata pengemis itu tangannya tidak ada, kakinya tidak ada. Biasanya, kalo orang yang tidak punya tangan/kaki itu akibat mencuri atau mungkin karena hal lain. Pengemis disini juga sedikit memaksa meminta uang.
Pertama kali melihat Masjidil Haram itu speechless! Aih indahnya masya Allah. Tapi, kondisi masjid saat itu dalam tahap renovasi, rencananya mau diperluas lagi. Kira-kira tahun 2020 baru selesai. Masuk ke dalam masjid itu rasanya merinding, kereeen! Masjid terbaik yang pernah aku tau. Tempat shalatku di bawah, soalnya udah pada penuh yang diatas. Pemandangan yang agak aneh, ngeliat macam-macam orang, macam-macam suku dan ras. Oh iya, apalagi anak bayi disini (terutama bayinya orang Turki) itu lucuuu banget gemesin! Rasanya pengen gitu ngambil satu trus dibawa ke Indonesia._.v hehe. Waktu adzan berkumandang, uuh suaranya merdu, keren, amazing! Setelah adzan dan iqamat, kami melaksanakan shalat Maghrib. Selesai shalat, aku mengamati orang-orang sekitar. Ternyata disini lebih bervariasi cara shalatnya daripada di Madinah (Masjid Nabawi). But, mereka tetep mempunyai satu tujuan, yaitu menyembah Allah SWT.
Setelah itu, kami langsung menuju Ka’bah dan melakukan Thawaf. Subhanallah, waktu liat Ka’bah pertama kali rasanya pengen nangis, aku tetap berada disamping Bapak, sekali-sekali ikut bantu bapak membimbing jamaah, selama ini cuma bisa liat di foto, di pajangan, tapi sekarang udah bisa liat langsung :’) rasanya tenang gitu kalo lagi mandang Ka’bah. Waktu mau Thawaf, butuh perjuangan, suasananya rame banget! Laki-laki dan perempuan jadi satu dan ada yang pakai kursi roda. Ya Allah, disini itu ga pernah bakalan sepi. Setiap waktu, setiap saat, jam berapa pun tetapi ramai. Subhanallah. Kami melakukan Thawaf sebanyak 7x putaran. Dan selesai tepat pada adzan Isya’ berkumandang. Kami menunaikan shalat Isya’ dulu baru melakukan Sa’i. Selesai shalat, kami menuju tempat Sa’i. Sa’i itu lari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak 7x. Jarak dari Shafa-Marwah sekitar 500m. Disini juga tidak pernah sepi, ada saja orang-orang yang melakukan Sa’i, entah itu berkelompok ataupun individu. Selesai Sa’i, kami melakukan Tahallul, yaitu mencukur rambut minimal 3 helai. Selesai Tahallul, kami shalat sunnah di bukit Marwah. Dan pulang menuju hotel sekitar pukul 22.00. Rasa capek pasti ada, tapi terbayarkan oleh keindahan Masjidil Haram.
Tanggal 1 April acara bebas untuk memperbanyak ibadah. Kemudian tanggal 2 April melaksanakan umrah kedua. Umrah kedua ini boleh diniatkan untuk orang-orang yang sudah meninggal dan belum sempat melakukan umrah, misalnya ayah, ibu, kakak, atau adik. Dan juga melakukan ziarah ke beberapa tempat, misalnya: Jabal Rahmah, Mina, Muzdalifah. Tanggal 07 April kami bersiap-siap meninggalkan Makkah menuju Jeddah. Sebelum meninggalkan Makkah, disunnahkan untuk melakukan Thawaf Wada’, yaitu Thawaf perpisahan. Di perjalanan menuju Jeddah, kebayang-bayang terus suasana Madinah-Makkah. Kapan ya bisa balik lagi, kapan ya bisa shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, kapan ya bisa melihat Ka’bah, ga rela meninggalkan itu semua. Ya semoga bisa balik kesini lagi secepatnya, aamiin.
Kami sampai di Jeddah pada sore hari sekitar pukul 05.30 (waktu Jeddah). Dan menunaikan shalat Subuh di Musallah Airport, sambil sarapan seadanya di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Oh iya, Jeddah itu kota yang bagus, keren, cocok buat liburan disini banyak tempat wisata yang dipenuhi pada hari Kamis & Jum’at (hari libur di Arab adalah hari Kamis & Jum’at, kalau di Indonesia hari Sabtu & Minggu). Jadi waktu kami mengurus segala sesuatu, chekin, bagi paspor memang sedikit melelahkan, apalagi jamaah yang rata-rata orang tua sudah pada capek, dengan sabar aku bertahan membantu bapak. Setelah kamu masuk dalam ruang tunggu kebanyakan rombongan kami termasuk aku mengistirahatkan tubuh. Dan tujuan kami ke Indonesia tidak langsung ke Medan, tetapi ke Kuala Lumpur terlebih dahulu. Kami berangkat menuju Kuala Lumpur sekitar pukul 008.30 (Waktu Jeddah). Dan tiba di Kula Lumpur sekitar pukul 11.20 (Wiaktu Kuala Lumpur). Kemudian pada pukul 08.30 (Waktu Kuala Lumpur) kami melanjutkan perjalanan ke Medan. Alhamdulillah, kami mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Kuala Namu sekitar pukul 08.30 WIB. bye Madinah Al-Munawwarah, Makkah Al-Mukarramah, dan Jeddah tunggu aku kembali yaa, dan welcome back to Indonesia! Hai Medan
Selesai mengurus barang-barang, kami keluar untuk menemui kelurga. Rasa haru menghampiri kami, akhirnya bisa bertemu dengan keluarga lagi kami meninggalkan bandara pukul 23.30 dan menuju rumah tercinta.
Itulah cerita dan pengalamanku yang dapat aku sampaikan mohon maaf ya jika terlalu panjang, dan mohon maaf juga jika ada yang kurang berkenan. Dan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk para readers! semoga bermanfaat
Wasssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
0 komentar:
Posting Komentar